RENUNGAN HARIAN
Di lihat : 786 kali
Ketika mengundang pengkhotbah, biasanya pihak pengundang memberi tema atau topik tertentu untuk dibahas. Apakah “khotbah pesanan” semacam itu dikenan Tuhan?
Alkitab mencatat 400 nabi, yang ingin menyenangkan hati Ahab, menyampaikan khotbah semacam itu (ay. 6, 11-12). Raja Israel ini semula mengajak Yosafat, raja Yehuda, merebut kembali Ramot-Gilead dari tangan Aram (ay. 2-4). Yosafat setuju ikut berperang asalkan Ahab memohon petunjuk Tuhan lebih dulu (ay. 5). Tetapi, oleh kepekaan rohaninya, ia mengenali bahwa nabi-nabi itu bersaksi dusta. Ia pun meminta Ahab mencari nabi lain yang benar-benar hamba Tuhan (ay. 7-8). Mikha bin Yimla, nabi itu, awalnya disarankan bicara yang baik-baik saja (ay. 13), namun ia menegaskan bahwa ia hanya akan menyampaikan firman Tuhan (ay. 14). Yang lucu, sempat juga ia “menggoda” Ahab dengan meniru perilaku nabi-nabi palsu itu (ay. 15). Anehnya, Ahab yang fasik dan membenci Mikha itu ternyata membutuhkan firman Tuhan juga, dan sadar bahwa nabi itu tengah mempermainkannya (ay. 8, 16)!
Jadi, khotbah pesanan itu dikenan Tuhan atau tidak? Dalam kasus Ahab, jelas tidak, sebab khotbah mereka berasal dari “roh dusta” walaupun Tuhan mengizinkannya menipu Ahab (ay. 19-23). Namun, sepanjang isi khotbah selaras dengan firman Tuhan, tidak masalah. Yang lebih penting, sebagaimana sikap raja Yosafat, kita dapat meminta kepada Tuhan untuk memberikan kepekaan rohani, agar kita mampu menguji “segala sesuatu” dan memegang “yang baik” (1 Tes. 5:21).—HIS
DALAM BERKHOTBAH, TIADA KEPENTINGAN LAIN
SELAIN KEPENTINGAN TUHAN
Sumber : www.renunganharian.net
22 Dec 2025
Mengawali dengan realitas kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan. Kasih Manusia bisa berubah tida...
17 Aug 2025
PRINSIP DASAR KITA ADALAH PADA KEYAKINAN BAHWA KESELAMATAN DAN HIDUP BERKEMENANGAN HANYA DAPAT DIPEROLEH MELALUI IM...
14 Jun 2017
Kebangkitan Kristus merupakan kebenaran yang sangat penting bahkan menjadi kebenaran yang terpenting dalam iman kri...

