RENUNGAN HARIAN
Di lihat : 678 kali
MAKAN DEBU TANAH
Kejadian 3:14 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.
Kata "terkutuklah" dari kata Ibrani: ×רר
arar artinya: to curse (mengutuk atau melaknat, menyumpah). Yang menarik kata arar bisa juga berarti: to execrate (membenci, merasa jijik). Dalam pikiran kita, kutukan itu akan menyebabkan sesuatu yang bersifat negatif. Namun kata "ARAR" ini dapat pula bermakna: "mengikat", "menggagalkan" atau "membatasi" seseorang atau sesuatu (Band. Kejadian 3:14; Keluaran 22:28; Ayub 3:8). Dalam makna ini sesuai dengan kutukan kepada si ular itu, bahwa ia menjadi terbatas dan dibatasi daripada kehidupan hewan lainnya.
"The Jamieson-Fausset-Brown Bible Commentary" memberi komentar Kejadian 3:14, dikatakan bahwa Ular itu dikutuk, dan ada beberapa penafsir barat mengartikan bahwa kutukan bagi ular itu bersifat sebagai suatu "kiasan", dan berlaku untuk makhluk jahat, yang telah menjadikan ular itu sebagai alatnya. Jadi, berjalan dengan perutnya, maupun makan debu tanah, diartikan juga sebagai "kiasan", dan menunjukkan perendahan yang Allah lakukan terhadap Iblis, yang tadinya adalah "seorang malaikat terang". Juga, ular itu juga dikutuk sehingga sekarang "merangkak dengan perutnya dan makan debu tanah." Kita tidak tahu bagaimana dahulu ular itu berjalan, barangkali bentuk ular bukan seperti yang kita lihat sekarang, barangkali dia dahulu berjalan dengan kaki, namun bentuknya bagaimana, Alkitab tidak menyebutkan itu. Dan seandainya ada reka-rekaan, itu akan hanya sebatas reka-rekaan saja. Ular, sejak saat itu, ia selamanya akan dipandang sebagai makhluk yang hina dan tercela, dan sasaran yang pantas bagi caci maki dan penghinaan: "Dengan perutmulah engkau akan menjalar," pemahaman ini merujuk kepada kemunkinan bahwa dulunya dia dapat berdiri di atas kaki, atau setengah tegak. Sedangkan kemudian ia akan merayap, "perutmu melata di atas tanah," suatu ungkapan tentang keadaan yang menyedihkan dan sangat hina.
Tetapi jika kita mengacu kepada kajian intertextuality Study menurut naskah Ibrani, makna "debu" yang dimaksud dalam Kejadian 3:14 itu adalah personifikasi dari manusia, karena manusia diciptakan dari debu tanah - עָפָר מִן־
Kejadian 2:7 (TB) ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Dalam permohonannya di hadapan Tuhan, Abraham menempatkan dirinya sebagai "debu & abu" di hadapan Allah untuk merujuk sisi kemanusiaannya: Kejadian 18:27 (TB) Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.
Mazmur 44:26 (TB) Sebab jiwa kami tertanam dalam debu, tubuh kami terhampar di tanah.
Apakah Ular yang dimaksud adalah ular secara harfiah? Jika ya, kita tahu ular tidak memakan debu. Maka di sini kita perlu menimbang apa yang dimaksud "debu" sebagai makanan ular itu, bukan dalam artian harfiah.
Perlu kita ketahui bahwa Alkitab Ibrani tidak pernah mengidentifikasi ular dengan Iblis. Cerita terkenal yang diduga/ ditafsirkan untuk benar-benar menempatkan Setan di Taman Eden (Yehezkiel 28:13-15). Namun oknum di sana sebenarnya bukan ular, tetapi dalam bentuk seorang malaikat. Korelasi antara ular dengan Iblis baru menjadi jelas pada Alkitab Perjanjian Baru yaitu di dalam Kitab Wahyu 12:9, 20:2.
"Ular tua" di dalam Kitab Wahyu ini jelas diidentifikasi sebagai Iblis/ Setan. Sebutan "si ular" yang semula ini pastilah karena Iblis menggunakan seekor ular di Eden sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan si wanita (Kejadian 3:1-15). Sebagai "ular yang semula", Iblis ini juga adalah bapak leluhur para penentang (manusia-manusia yang menentang Allah) dalam arti rohani; oleh karena itu Tuhan Yesus menggolongkan orang-orang semacam itu sebagai "keturunan ular beludak" (Matius 23:33).
Ular dikutuk "makan debu tanah" adalah suatu ungkapan kias merujuk kepada kejahatannya yang membujuk perempuan itu agar ia memakan apa yang tidak boleh dia makan. Orang-orang yang telah menjadi mangsa dari Iblis, mereka pun akan menjadi agen-agen Iblis dalam kejahatan yang ada di bumi ini. Debu tanahlah akan kaumakan, merujuk kepada manusia dalam kejatuhannya ke dalam dosa, ia telah menjadi mangsa dari Iblis. Mereka menjadi anak-anak dari Iblis yang menjadi bapa mereka (Yohanes 8:44). Mereka pun menjilat debu seperti ular (Mikha 7:17):
Jelas bahwa ular itu adalah bentuk dari Iblis (Wahyu 12:9, 20:2), sehingga yang dimaksud dalam Kejadian 3:14 tentang "memakan debu," adalah juga dalam makna kias. Debu juga dapat kita artikan sebagai bentuk personifikasi dari manusia, sebab manusia berasal dari debu (Kejadian 2:7). Makna Kejadian 3:14, debu yang menjadi "makanan" bagi "ular" (Iblis), adalah para manusia yang takhluk kepada Iblis, siapapun dia, "daging"-nya adalah mangsa dari Iblis. Sebab struktur "daging" dari manusia berasal dari "debu tanah."
Bdg 1 Petrus 5:8-9 (TB) 8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. 9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.
Oleh sebab itu, Alkitab sering mewanti-wanti umatnya untuk melawan keinginan-keinginan daging-nya, agar dia jangan menjadi mangsa dari Iblis. Keinginan daging adalah: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah dan sebagainya. Siapa yang melakukan perbuatan daging tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21).
Kejadian 2:7 menyatakan bahwa manusia terdiri dari 2 unsur: unsur fana (tanah) yang menjadi daging, dan unsur kekal (roh/ nafas hidup yang dihembuskan Allah pada hidung manusia). Unsur daging (debu tanah) bertentangan dengan Unsur roh. Persis seperti yang dituliskan Rabbi Saul dalam Galatia 5:17: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki."
Unsur daging yang berasal dari debu tanah itulah mangsa (makanan) bagi Iblis. Demikianlah manusia dapat digoda dan diseret untuk jatuh ke dalam dosa, ketika dia takhluk menuruti keinginan-keinginan dagingnya (unsur debu-nya). Dalam menghadapi hal ini, disebut sebagai "peperangan rohani," Rasul Paulus menasehati kita untuk "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis" (Efesus 6:11, baca selengkapnya mulai dari ayat 10 s/d 18 dari Efesus 6:10-18).
Manusia perlu memagari "unsur debu" dirinya dengan perlengkapan senjata Allah. Sebab "debu" inilah makanan dari Iblis itu (Kejadian 3:14). Dalam Yohanes 8:44, 10:10 Tuhan Yesus menyebut Iblis adalah pembunuh (si pemangsa itu). Oleh sebab itu, janganlah murid-murid Kristus itu menjadi mangsa dan takhluk pada Iblis. Orang-orang yang percaya Kristus dalam kehidupannya di dunia yang masih memiliki unsur "debu" ini, kita harus mempersenjatai dirinya agar jangan menjadi "makanan" atau "mangsa" dari Iblis. (CS)
22 Dec 2025
Mengawali dengan realitas kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan. Kasih Manusia bisa berubah tida...
17 Aug 2025
PRINSIP DASAR KITA ADALAH PADA KEYAKINAN BAHWA KESELAMATAN DAN HIDUP BERKEMENANGAN HANYA DAPAT DIPEROLEH MELALUI IM...
14 Jun 2017
Kebangkitan Kristus merupakan kebenaran yang sangat penting bahkan menjadi kebenaran yang terpenting dalam iman kri...

